EVALUASI IMPLEMENTASI ANALISA CPM/PERT DAN EVA DALAM MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI

By Ajie Wahyujati

Abstract

Materi Tambahan :

Materi tambahan 1 Materi tambahan 6 Materi tambahan 11
Materi tambahan 2 Materi tambahan 7 Materi tambahan 12
Materi tambahan 3 Materi tambahan 8 Materi tambahan 13
Materi tambahan 4 Materi tambahan 9 Materi tambahan 14
Materi tambahan 5 Materi tambahan 10 Materi tambahan 15

This Research is purposed to evaluate the usage of CPM / PERT (Critical Path Method / Program Evaluation and Review Technique) and EVA (Earned Value Analysis) in a construction project, by comparing the result of those two analysis to evaluate the relationships of those methods. Research results shows that CPM/PERT and EVA have different result, technology intensive tasks has higher value on CPM/PERT, on the other hand, labor intensive tasks has higher value on EVA. This difference will make different project report to the project owner that will make the project owner confused and give an opportunity for project contractors to make a fraudulent report.

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak ditemui berbagai macam proyek yang harus kita jalankan baik untuk kepentingan pribadi, pekerjaan maupun kehidupan sosial. Semua kegiatan yang kita lakukan selain kegiatan rutin kita dapat dikatakan sebagai proyek sesuai dengan definisi proyek dari Project Management Institute, yaitu suatu usaha sementara untuk menciptakan suatu produk atau jasa yang unik (PMI 1996). Karena semakin banyaknya proyek yang kita jalankan, agar kita dapat menjalankan semua aktifitas kita dengan lebih efisien diperlukan suatu manajemen proyek yang baik serta alat untuk memonitor serta mengevaluasi proyek yang kita jalankan. untuk mengelola sebuah proyek berbeda dengan aktifitas non proyek, karena pada aktifitas non proyek semua aktifitasnya rutin dan dijalankan berdasarkan rutinitas oleh karyawan, sehingga manajer hanya berurusan dengan hal-hal yang merupakan pengecualian. Dalam sebuah proyek tidak ada aktifitas rutin, bahkan bila dibandingkan dengan proyek di masa lalu yang mempunyai karakteristik sama, tidak pernah ada aktifitas yang benar-benar sama. Jadi semua aktifitas dalam proyek selalu baru, dan manajer proyek tidak bisa hanya mengulangi dari pengalaman di masa lalu. (Mantel Jr., et al. 2001)

Untuk melakukan riset tentang manajemen proyek, objek yang mudah untuk diamati dan mewakili proyek secara garis besar adalah proyek pembangunan sarana fisik, karena proyek pembangunan sarana fisik dapat dilihat bentuk fisiknya sehingga dapat dilihat hasil nyata dari penghitungan dan penerapan sistematika manajemen proyek dalam segi efisiensi biaya dan waktu untuk menyelesaikan proyek sarana fisik tersebut. Pembangunan sarana-sarana fisik seperti pembangunan gedung bertingkat tinggi, apartemen, kantor, pertokoan, perumahan, dan lain sebagainya memerlukan suatu pengelolaan yang serius mengingat semakin besarnya ukuran proyek dan semakin kompleksnya ketergantungan antara satu bagian pekerjaan dengan bagian lain dalam suatu proyek untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Problem utama dalam manajemen proyek adalah terbatasnya sumber daya yang dimiliki sehingga dituntut memiliki kemampuan untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya yang terbatas tersebut untuk mencapai hasil tanpa mengurangi kualitas. Dalam melakukan perencanaan proyek, team perencana proyek memulai pekerjaannya dari estimasi kasar yang digunakan sebagai dasar keputusan untuk mengerjakan proyek. Kemudian estimasi tersebut dihaluskan dengan membuat spesifikasi yang lebih detail, schedule yang detail dan anggaran biaya (Anthony and Govindarajan 2001)

Pada saat ini sudah banyak manajer proyek yang sudah memenuhi kualifikasi seperti yang telah disyaratkan oleh Direktorat Jenderal Pekerjaan Umum. Para manajer proyek pada saat ini telah menguasai teknik dan metode yang digunakan untuk mengevaluasi proyek yang ditanganinya, karena para manajer proyek pada saat ini telah mencapai pendidikan minimal strata 1 (S1) dan untuk manajer proyek besar harus sudah memiliki sertifikasi sebagai manajer proyek pada bidang yang ditanganinya.

Akan tetapi pada kenyataannya terdapat suatu kesenjangan pada penguasaan ilmu tersebut pada jenjang manajer dan jenjang dibawahnya, yaitu mandor yang biasanya baru mencapai pendidikan sekolah menengah. Walaupun para mandor tersebut telah mempunyai jam kerja yang tinggi dan mempunyai pemahaman tentang proyek dengan baik, tetapi mereka belum menguasai teori-teori dan metode evaluasi proyek yang digunakan oleh para manajer proyek. Hal tersebut menyebabkan suatu problem baru, dimana seorang manajer proyek seharusnya menerima laporan dalam bentuk metode yang sudah modern dan biasanya dirangkum dalam suatu software computer, tetapi mereka mendapatkan laporan dalam bentuk konvensional. Hal ini sangat berpengaruh pada fungsi seorang manajer proyek, yaitu mengelola proyek yang ditanganinya dan menjadi orang pertama yang mengetahui adanya penyimpangan dari proyek yang ditanganinya serta segera memperbaiki penyimpangan tersebut. Bila dalam menerima laporan mereka sudah dalam bentuk metode yang terkomputerisasi, mereka dapat mengetahui segala jenis penyimpangan pada saat-saat awal penyimpangan itu terjadi karena penyimpangan akan lebih mudah terdeteksi, sebaliknya bila laporan dari para mandor berbentuk konvensional, penyimpangan mungkin baru akan diketahui pada saat sudah mencapai taraf yang lebih besar, atau pada saat laporan tersebut dikonversi ke metode yang telah terkomputerisasi.

Pemilik proyek juga mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan proyek (Neap and Aysal 2004), jadi pelaporan terhadap pemilik proyek juga harus dilakukan dengan baik dan tidak menimbulkan persepsi yang salah terhadap pelaksanaan yang dilakukan oleh manajer proyek. Pihak kontraktor atau konsultan proyek (bila ada) seharusnya membantu pemilik proyek dalam memahami laporan proyek yang ada dan bukan membiarkan pemilik proyek bingung dan tidak memahami laporan yang diterimanya, seperti yang sering terjadi pada saat ini, hal tersebut dijadikan cara bagi kontraktor untuk mengurangi campur tangan pemilik proyek dalam proses pengerjaan proyek. Padahal, menurut Yang dan Peng, sebagai perusahaan jasa, kontraktor dan konsultan seharusnya memperhatikan kepuasan pelanggan karena dasar kesuksesan-nya pada tingkat kompetisi tinggi pada saat ini adalah kepuasan konsumen dan standar kualitas yang tinggi. (Yang and Peng 2006)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan proyek di Indonesia, terutama dalam bidang konstruksi adalah bahwa manajer lapangan proyek (supervisor) yang menangani proyek secara langsung, yang biasa disebut mandor, biasanya tingkat pendidikannya tidak cukup tinggi dan terjadi kesenjangan yang cukup signifikan antara supervisor dan manajer utama proyek, dimana manajer proyek telah memahami teori-teori modern manajemen proyek beserta alat-alat analisanya yang umumnya menggunakan program-program komputer, sedangkan supervisor sama sekali belum pernah mempelajari teori dan alat analisa manajemen proyek. Disamping itu, harga program komputer untuk analisa manajemen proyek cukup tinggi, dan dipandang rumit oleh para supervisor untuk mempelajarinya.

PERUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah hasil analisa menggunakan CPM/PERT dan EVA menghasilkan nilai yang sama?
  2. Apabila tidak sama, bagaimana perbedaan kedua metode analisa tersebut

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Proyek

Proyek adalah kombinasi dari sumberdaya manusia dan non-manusia yang secara bersama-sama ditempatkan dalam organisasi sementara untuk mencapai tujuan tertentu. Proyek merupakan kegiatan dan tugas terencana yang mempunyai karakteristik sebagai berikut :

- Mempunyai tujuan tertentu yang harus diselesaikan dalam kriteria tertentu

- Mempunyai keterbatasan pendanaan / anggaran

- Menggunakan sumber daya dalam pelaksanaannya ( misal : uang, tenaga kerja manusia, peralatan, dan lain sebagainya)

- Mempunyai organisasi temporer baik formal maupun non formal

- Mempunyai keterbatasan waktu yang jelas antar permulaan dan akhir proyek.

Secara umum terdapat 3 (tiga) indikator yang menunjukkan keberhasilan suatu proyek (Suharto, Iman, 1997), yaitu :

  1. On time (tepat waktu), yaitu ketepatan waktu penyelesaian proyek sesuai dengan yang dijadwalkan.
  2. On specification (tepat spesifikasi / kualitas), dari spesifikasi yang telah ditentukan, pemilik proyek menginginkan mutu pekerjaan yang bagus.
  3. On budget (tepat anggaran / biaya)

Sejalan dengan semakin besarnya tuntutan konsumen saat ini, ukuran sukses tidaknya proyek tidak hanya dapat dilihat dari ketiga kriteria diatas, tapi juga meliputi penyelesaian proyek yang :

  1. Dalam batas waktu yang ditentukan.
  2. Dalam dana yang dianggarkan pada spesifikasi atau prestasi yang ditentukan.
  3. Diterima oleh konsumen atau pemakai.
  4. Dengan perubahan minimum dari perjanjian.
  5. Tanpa mengganggu alur kerja utama organisasi.
  6. Tanpa mengubah kultur perusahaan.

Tiga unsur terakhir berkaitan dengan pelaksanaan proyek yang meleset dari cakupan proyek yang seharusnya. Karena kompleksnya tugas, pentingnya proyek dan tingkat pengambilan keputusan dalam menangani suatu proyek diperlukan adanya manajemen proyek. Definisi manajemen proyek adalah aplikasi pengetahuan, ketrampilan, alat, dan teknik dalam aktifitas proyek untuk memenuhi atau melebihi kebutuhan dan harapan stakeholder dari suatu proyek. (Project Management Institute, 1996). Yang berupa proses perencanaan, pengaturan, pengarahan dan pengawasan sumber daya perusahaan dalam waktu yang relatif singkat yang ditentukan untuk memenuhi tujuan dan hasil spesifik (Kezner, Harold, 1995).

Work Breakdown Structure

WBS merupakan elemen penting, karena memberikan kerangka yang membantu, antara lain dalam :

- Penggambaran program sebagai ringkasan dari bagian-bagian yang kecil

- Pembuatan perencanaan proyek

- Pembuatan network dan perencanaan pengawasan

- Pembagian tanggung jawab

- Penggunaan WBS ini memungkinkan bagian-bagian proyek terdefinisi dengan jelas

Jaringan

Karena kompleksitas pekerjaan, unsur perencanaan memegang peranan yang semakin penting. Banyak kegiatan dapat dikatakan sebagai suatu proyek, yang berarti bahwa mempunyai tujuan tertentu dan usaha untuk mencapainya dibatasi oleh waktu dan sumberdaya tertentu. Perencanaan yang sistematis menimbulkan kepercayaan dalam penyelesaian proyek. Salah satu cakupan dalam perencanaan tersebut adalah masalah penjadwalan atau schedulling proyek. Dalam hal ini peran analisis network dapat membantu. Dalam analisis network dikenal dua metode, yaitu CPM dan PERT.

Critical Path Method Pada tahun 1956 Morgan Walker dari DuPont Company, mencari cara yang lebih baik dalam penggunaan komputer Univac milik perusahaan, kerjasamanya dengan James E. Kelly dari group perencana konstruksi internal Remington Rand dalam menggunakan komputer Univac untuk melakukan penjadwalan konstruksi menghasilkan metode yang rasional, tertib, dan mudah untuk menggambarkan proyek dalam komputer.

Program Evaluation and Review Technique (PERT) Teknik PERT menekankan pada pengurangan penundaan produksi maupun rintangan berupa konflik-konflik, mengkoordinasikan dan menyelaraskan berbagai bagian sebagai suatu keseluruhan pekerjaan, dan mempercepat penyelesaian proyek. Teknik ini memungkinkan dihasilkannya pekerjaan yang terawasi dan teratur.

Kedua metode diatas pada saat ini digunakan secara bersama sehingga dikenal dengan metode CPM / PERT. data yang diperlukan untuk menyusun analisis network meliputi:

  1. Jenis – jenis pekerjaan / aktifitas.
  2. Waktu penyelesaian yang diperlukan untuk tiap – tiap pekerjaan tersebut.
  3. Urutan pekerjaan.
    1. Biaya tiap – tiap kegiatan baik normal maupun percepatan.

Earned Value Analysis

Earned Value Analysis dihitung dengan cara mengkalikan biaya yang dianggarkan per pekerjaan dengan persentase penyelesaian dari pekerjaan dan menjumlahkan hasil dari semua pekerjaan dalam proyek. Proses ini lebih sulit daripada yang dibayangkan. Persentase aktual dari anggaran suatu aktivitas pada suatu saat tertentu, secara umum, bukan merupakan indikator persentase penyelesaian aktivitas tersebut. Contohnya, biaya terbesar dari suatu pekerjaan adalah pengadaan alat, suatu biaya yang terjadi sebelum adanya kemajuan dalam pekerjaan tersebut. Atau mungkin biaya terbesar akan dibebankan pada saat pekerjaan selesai. Untuk pengetahuan kita bersama, tidak ada cara yang sempurna untuk mengukur secara tepat persentase penyelesaian suatu pekerjaan, yang digunakan untuk mengukur persentase penyelesaian proyek secara keseluruhan. (Mantel, Meredith, Shafer, and Sutton, 2001).

Elemen dasar yang dibutuhkan untuk Earned Value Analysis:

  • Budget At Completion (BAC). Total biaya proyek yang dianggarkan.
  • Budgeted Cost of Work Scheduled (BCWS). Nilai anggaran dari pekerjaan seharusnya diselesaikan berdasarkan skedul dalam suatu titik dalam proyek.
  • Budgeted Cost of Work Performed (BCWP). Nilai anggaran dari pekerjaan yang telah benar-benar diselesaikan pada titik tertentu pada proyek.
  • Actual Cost of Work Performed (ACWP). Jumlah pengeluaran nyata dari pekerjaan nyata yang telah diselesaikan pada titik tertentu pada proyek.

Perhitungan value analysis:

  • Schedule Variance
  • Schedule Performance Index
  • Projection at Completion
  • Cost Variance
  • Cost Performance Index
  • Estimate at Completion

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Tujuan Penelitian

Dari perumusan masalah yang telah disebutkan di bagian sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengevaluasi efisiensi penggunaan analisa CPM / PERT dan EVA dalam proyek konstruksi.
  2. Membandingkan hasil penggunaan analisa CPM / PERT dan EVA dalam proyek konstruksi bila digunakan dalam satu proyek yang sama

Manfaat Penelitian

1. Memberikan masukan bagi peneliti lain yang mempunyai minat yang sama, yaitu meneliti tentang manajemen proyek, dan perkembangan proyek konstruksi.

2. Memberikan masukan bagi penyelenggara jasa konstruksi agar mengetahui cara menjalankan proyek secara lebih efisien (on time, on budget, on schedule, on specification).

METODE PENELITIAN

Metode pengumpulan data

Data yang diperlukan dalam melakukan penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Data primer diambil dari proses pelaksanaan 2 buah proyek konstruksi, yang berupa jenis pekerjaan / aktifitas, urutan aktifitas, waktu yang diperlukan, dan buku laporan harian pelaksanaan proyek. Data sekunder diperoleh dengan melakukan studi pustaka untuk menggali landasan teori yang berhubungan dengan masalah penelitian. Informasi – informasi yang dibutuhkan diharapkan didapat dari jurnal, atikel, literatur serta bacaan lainnya.

Metode analisa data

  1. Analisa Kuantitatif

Mengevaluasi pelaksanaan proyek dilakukan dengan analisa Earned Value Analysis dan menganalisa jejaring proyek dengan software Ms Project untuk mengetahui efisiensi pengerjaan proyek.

  1. Analisa Kualitatif

Membandingkan hasil yang didapat dengan realita yang dilaksanakan oleh perusahaan dalam menjalankan proyek.

Proses Pembahasan Masalah

Proses pembahasan masalah ini menggunakan software Ms Project 2003. Hasil pengolahan data menggunakan software tersebut digunakan dalam evaluasi jejaring proyek yang akan dilakukan dengan cara membandingkannya dengan pelaksanaan proyek yang telah terjadi. Analisa EVA dilakukan dengan cara penghitungan yang dibantu dengan software Microsoft Excel, analisa tersebut menghasilkan gambaran performa pengerjaan proyek. Pada tahap evaluasi penggunaan analisa, diperbandingkan nilai efisiensi yang bisa dilakukan dengan menggunakan analisa CPM / PERT dan EVA dengan nilai pengeluaran kita untuk melaksanakan analisa tersebut.

Gambar 1. Diagram Pelaporan Proyek

Dari bagan pelaporan proyek kepada pemilik proyek dapat diketahui bahwa hasil laporan dapat dihasilkan 2 bentuk hasil pelaporan, yaitu laporan berdasarkan analisa biaya (EVA) dan laporan berdasarkan analisa jejaring kerja dan waktu (CPM/PERT), oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi perbandingan dari kedua hasil analisa tersebut, dan diperkirakan implikasi dari hasil evaluasi tersebut.

Lanjutkan Ke halaman  berikutnya ========>